Kupang - Kantor Wilayah Kementerian Hukum Nusa Tenggara Timur menghadiri kegiatan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dan Nusa Tenggara Timur yang diselenggarakan pada Rabu,(10/12/2025),bertempat di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT. Acara secara resmi dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, E. Melkiades Laka Lena. Kehadiran Kanwil dalam kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap upaya Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat persatuan, ketahanan sosial, serta stabilitas daerah di tengah berbagai dinamika dan ancaman bencana yang kerap melanda wilayah NTT.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur, E. Melkiades Laka Lena, menyampaikan sambutan yang menegaskan pentingnya kesadaran kolektif bahwa Indonesia merupakan “laboratorium bencana alam.” Ia menuturkan bahwa bencana tidak hanya menjadi musibah, tetapi juga ujian kemanusiaan dan kebangsaan yang mengukur sejauh mana masyarakat mampu menunjukkan nilai kebersamaan. Menurut Gubernur Melki, kekuatan sejati bangsa tidak terletak pada kekayaan materi, melainkan pada kedalaman solidaritas antarwarga dalam menghadapi situasi sulit.
Gubernur Melki juga menekankan bahwa solidaritas merupakan perekat sosial yang sangat vital saat bencana mengancam kehidupan masyarakat. Solidaritas yang kuat dapat mencegah retaknya kohesi sosial yang berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Ia mengingatkan bahwa keselamatan bangsa adalah tujuan tertinggi, dan penanganan bencana yang tidak tepat dapat memicu krisis kepercayaan publik serta mengguncang stabilitas ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Gubernur Melki menjelaskan bahwa tahap pemulihan pasca-bencana meliputi pembangunan kembali, pemulihan ekonomi, hingga pemulihan kondisi psikososial masyarakat merupakan ujian sesungguhnya bagi kekompakan bangsa. Tantangan terberat muncul setelah sorotan media mereda, ketika masyarakat masih harus bangkit sedikit demi sedikit. Karena itu, ia menegaskan pentingnya memastikan bahwa tidak ada daerah yang ditinggalkan dalam proses pemulihan, khususnya daerah-daerah rawan bencana seperti Nusa Tenggara Timur.
Dalam perspektif sosial, Gubernur menyampaikan bahwa bencana sering membawa fungsi pembersihan terhadap konflik horizontal, menghadirkan kesadaran baru bahwa manusia adalah sesama penanggung nasib. Solidaritas yang tumbuh dari penderitaan kolektif dapat menjadi fondasi untuk membangun kembali harmoni sosial. Ia juga menambahkan bahwa membangun budaya sadar bencana berbasis kebersamaan adalah bagian dari strategi pertahanan non-militer yang perlu diperkuat melalui peran BNPB dan partisipasi aktif komunitas lokal.
Kegiatan doa bersama berlangsung khidmat dengan dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perwakilan lembaga vertikal. Doa dipimpin oleh perwakilan tiap tokoh agama: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Konghucu. Hadir dari Kanwil Kementerian Hukum NTT, Kepala Kantor Wilayah, Silvester Sili Laba. Pada kesempatan tersebut, Kakanwil menyampaikan bahwa momentum spiritual ini menjadi pengingat penting bagi seluruh instansi untuk menjaga sinergi, soliditas, serta memperkuat pelayanan publik yang berpihak pada masyarakat. Ia menegaskan, “Kegiatan doa bersama ini menjadi momentum penting bagi kita semua untuk kembali meneguhkan komitmen kebangsaan, terutama dalam menghadapi potensi bencana yang kerap melanda Nusa Tenggara Timur.
Acara ditutup dengan ajakan Gubernur NTT agar seluruh komponen bangsa pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil terus membangun solidaritas, menyalurkan sumber daya secara adil dan tepat sasaran, serta menjaga kebersamaan demi keselamatan bangsa. Kanwil Kementerian Hukum NTT menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh unsur masyarakat dalam membangun NTT yang semakin maju, harmonis, dan berkeadilan. Sambutan Gubernur ditutup dengan seruan penuh semangat, “Tetaplah bersama, tetaplah sepenanggungan, berpegangan tangan dalam doa. Ayo Bangun NTT, Ayo Bangun Indonesia!”
